Blog post

Pesona Solo International Performing Art (SIPA) 2018

September 23, 2018

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekaragaman adat, budaya dan istiadat sudah tidak diragukan lagi. Kreatifitas tak terbatas pun muncul sebagai hasil dari keanekaragaman ini.

Beragam adat, budaya, kesenian , kepercayaan dan bahasa yang bisa membuat negara Indonesia menjadi semakin kokoh.Kesenian yang beranekaragam dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia, masing-masing memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, yang memperngaruhi, moderenisasi dan kreatifitas para pelaku seni yang membuat kita takjub.

Keberagaman ini juga menjadi tonggak lahirnya para seniman-seniman tingkat dunia yang  mampu membuat para penonton terpesona dengan karya-karyanya.Melalui event Solo International Performing Arts (SIPA) 2018 yang  digelar pada 6-8 September di Benteng Vastenburg, Surakarta, pagelaran seni inidigelar secara megah, profesional dan tentunya memanjakan kalian para pecinta seni.

Event ini sudah berjalan selama 10 tahun yang selalu menjadi jujugan dan selalu dinanti nantikan oleh para pecinta seni khususnya.Menginjak tahun penyelenggaraan ke-10, SIPA 2018 mengusung tema “We Are The World – We Are The Nations”.

Tema tersebut menjadi pesan moral yang akan digelorakan di panggung pertunjukan. “Biarlah perbedaan bahasa, warna kulit, adat dan tradisi dan bangsa itu menjadi satu dalam kekuatan kebersamaan.”

Pagelaran SIPA 2018 disemarakkan dengan penampil lokal seperti Gilang Ramadhan, Komunitas Street Pass, Melati Suryodarmo dan sebagainya. Tak kalah mewah, panggung pagelaran SIPA tahun ini pun akan menjadikan Benteng Vastenburg sebagai latar belakangnya yang tak kalah megah dengan panjang 20 meter dan lebar 16 meter.

Selain para penampil dari dalam negeri, tentunya SIPA 2018 ini juga akan menghadirkan penampilan talent profesional lintas benua seperti LeineRoebana Dance Company (Belanda), Capitol University Dance Troupe (Philipina), Filastine & Nova (Spanyol), Chinese Youth Goodwill Association (Taiwan), Supa Kalulu (Zimbabwe) dan Stefano Fardeli dari Italia.

Performa mereka menambah menawan pagelaran SIPA tahun ini.“SIPA merupakan pertunjukan yang menghadirkan berbagai mahakarya seni budaya dari berbagai belahan dunia. Perhelatannya selalu dinanti bukan saja pencinta seni dalam negeri tetapi juga dari luar negeri.

SIPA semakin mempertegas Solo sebagai kota seni dan budaya,” ujar Menpar Arief Yahya.Solo International Art (SIPA) 2018 lalu dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana Calendar of Event Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty.

Esthy Reko Astuty mengatakan, setelah 10 tahun berjalan SIPA mampu memperlihatkan eksistensinya. “SIPA memiliki dampak yang baik bagi perekonomian. Ini sangat baik, makanya SIPA selalu sukses.

Apalagi tahun ini ada 10 negara yang ambil bagian. Value kegiatan ini akan semakin terangkat,” paparnya.Kabid Pemasaran Area I Kementerian Pariwisata Wawan Gunawan menyatakan SIPA adalah tempat terbaik untuk mempertunjukkan seni.“Solo menjadi salah satu pusat seni di Indonesia.

SIPA menjadi wadah yang tepat bagi para pelaku seni dunia untuk memperlihatkan kemampuannya,” paparnya.

Apresiasi juga diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya, seni pertunjukan memiliki nilai yang sangat luar biasa.Selain mampu melestarikan kebudayaan, seni pertunjukan adalah cara yang tepat untuk menarik wisatawan. Karena, lewat hal ini kekayaan bidaya kita bisa terangkat dan dikenal luas di luar negeri. Sukses buat SIPA 2018, katanya.

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post